http://agwicaksono.tumblr.com/
Did u still with me…
Ok, just like I said before the stories will be continued…and the stories goes
Kamis, 29 Oktober 2009 akhirnya saya memutuskan untuk ke Jogja bersama sepupu saya menggunakan kereta di kala senja, waktu menunjukan pukul 03.00 siang dan kita berangkat menuju jogja melalui stasiun wonokromo. Lantunan kereta mengantarkan saya melintasi tempat2
yang indah. Saya begitu menikmati sepanjang perjalanan yang dilalui, seakan tak ingin mengedipkan mata ini untuk terus memandang keluar jendela, sambil mendengarkan lagu2 band indie yang (baru) saya sukai Monkey To Millionaire, yang membawa imajinasi saya akan sebuah perjalanan yang tak terlupakan.
08.00 malam, sesampainya saya di stasiun tugu Jogjakarta saya langsung di jemput oleh temen2 SMA saya, (yang tidak saya sadari) ternyata tempat saya berdiri menunggu temen2 saya datang adalah jalanan pasar kembang (sarkem) yang begitu fenomenal itu…hehe
Well, sepertinya (imajinasi) saya dimulai dari malam itu. Saya di jemput oleh ketiga temen saya (jalu, agus dan kipli) dan langsung saja kita bertiga bergegas ke kost-an jalu untuk menaruh barang-barang bawaan saya. Setelah saya mandi, lalu kita bertiga tanpa menunggu lama2 lagi, langsung saja mengelilingi sepanjang jalan condong catur untuk cari makanan (hhm, perut ini memang terasa sangat lapar sekali…) sepanjang perjalanan saya begitu amaze melihat kehidupan malam kota pelajar itu, kota itu begitu dipenuhi dengan anak muda dengan segala kegiatannya yang begitu produktif dan beragam. Saya banyak melihat warung makan-warung makan dengan konsep ciri khas masing2, belum lagi ‘menjamurnya’ usaha2 laundry dan warnet yang begitu banyak sekali kalo dihitung pake jari, dan tentu saja ‘angkringan’ warung kopi pinggir jalan.
Keliling2 cari makan, akhirnya kita malah makan di KPMB yaitu tempatnya komunitas mahasiswa asal Balikpapan yang kuliah di Jogjakarta. Malem itu saya mesen ayam goreng lengkap dengan lalapannya, yang begitu cheap nya harganya sangat terjangkau sekali, kalo tidak salah saya hanya memerlukan biaya tujuh ribu lima ratus rupiah saja untuk bisa makan sudah plus dengan teh hangatnya…selesainya kita makan, langsung saja bergegas menuju alun2 utara yang begitu terkenal itu dimana terdapat dua pohon beringin yang berdiri sejajar disebuah tanah lapang yang luas (yang konon katanya kalo kita berhasil melewati jalanan diantara tengah2 pohon beringin tersebut dalam keadaan mata tertutup, kita bisa memohon permintaan yang insya Allah dapat terkabul. Ya Allahuallam saja. And you know what, saya berhasil melewatinya dalam percobaan pertama,,,yeeeeaa, wishes wishes…apa ya permohonan saya, hhm…saya cuma memohon dapat mencintainya setulus hati saya, dan berharap dia pun bisa merasakan hal yang sama seperti apa yang saya rasakan…hehe).
Di alun2 itu kita berempat juga menyewa sepeda tandem dengan dua kemudi, Oo ya sebelum itu, ngucapin selamet ulang tahun dulu buat temen saya jalu yang pada malam itu tepat merayakan hari ulang tahunnya yang ke 22 (selamat ya jal, hehe). Lalu akhirnya kita nyewa dua sepeda dengan tarif lima ribu rupiah satu sepedanya, dengan ketentuan boleh mengitari dua kali lingkar lapangan alun2 itu. Tidak lama setelahnya, langsung kita bergegas buat cari minuman (ngopi2), dan tempat yang kita datangi adalah ‘angkringan’ di atas kali code, wuiih ternyata sudah agak sepi malam itu tempatnya. Ditengah perbincangan hangat kita berempat ada ‘segerombolan’ pengamen jalanan yang menyanyikan lagunya kerispatih (wuuiiih, yang ngamen banyak banget orangnya…tapi suaranya keren c…)
Well itu bener2 malem yang merubah mindset saya akan ‘keindahan dunia’, nampaknya hilang sudah keinginan saya untuk hidup di kota besar yang lengkap dengan segala ‘ke-hedon-annya’, ternyata saya tidak membutuhkan semua itu. Pokonya setiap jengkal perjalanan malam itu begitu saya nikmati ketika melintasi bangunan2 tradisional yang memenuhi kota budaya itu, bahkan ada sebuah traffic light yang menurut saya unik sekali posisinya. J
And then setelah itu kita pulang, waktu menunjukan pukul 12 lewat tengah malam ketika saya sampe di kost-an jalu. Keesokan harinya saya dan jalu ke kost-an atas di kaliurang tempat tinggalnya agus dan kipli. Siang harinya setelah sholat jumat, saya, jalu dan agus ke tempat wisata yang ada di puncak kaliurang.
Di dae
rah tersebut banyak sekali terdapat objek wisata diantaranya gua jepang, air terjun, museum ullen sentalu, dan tempat awesome lainnya. Keliling-keliling kita mencari museum ullen sentalu, tempat wisata yang pertama kita temui malah gua jepang, tapi kita tidak sempat memasukinya dikarenakan tempatnya saat itu sepi, kita hanya berfoto2 di depannya saja, setelahnya lalu kita berjalan lagi dan akhirnya kita menemukan air terjun kaliurang, dengan biaya masuk yang cukup terjangkau tanpa ragu kita memakirkan kendaraan dan kembali foto2 diberbagai sudut yang ada di tempat itu . Ada mobil yang berbentuk kereta yang diparkir, ada banyak monyet liar yang dibiarkan saja (mengingatkan saya akan suasana tempat wisata sange di pulau bali) ada kejadian lucu dengan monyet2 itu, kita berencana berfoto bersama monyet2 liar itu, tapi apa daya monyet itu lebih pintar untuk menghindari jepretan kamera daripada memilih makanan yang ada di tangan kami… 
Lalu terus kita melanjutkan perjalanan kembali, dan (masih) ullen sentalu yang kami cari. Terus bertanya di jalan, akhirnya kita menemukan museum ullen sentalu di sisi utara kaliurang, tapi sesudah sampainya disana, unfortunately museum itu udah tutup Karena sudah sore. Well, mungkin belum berjodoh, ya sudah akhirnya kita memutuskan untuk kembali ke kost an saja. Diperjalanan pulang kita mampir dulu ke kampus UII (Universitas Islam Indonesia) hhm, cukup luas juga area lahannya. Dan setelahnya kita tidak lupa untuk makan sate ayam yang ada di pinggir jalan kaliurang. Dengan harga hanya sepuluh ribu rupiah satu porsinya, kita sangat menikmati hidangan ya
ng cukup familier dengan lidah orang Indonesia tersebut.
(hhm, sepertinya saya tiba2 jadi sangat kangen sekali moment2 seperti itu di hari kedua saya di Jogjakarta…) setelah menyantap makanan, kita akhirnya pulang ke kost-an, saya dan jalu pulang ke kost-an condong catur sementara agus pulang ke kost-annya di kaliurang deket kampus UII disitu.
Malam harinya, saya dan jalu kembali ke kost-an agus dan kipli yang ada di kaliurang itu (kost-an atas kami biasa menyebutnya, karena letak geografisnya yang memang ada disebelah utara). Malam itu kita bermain poker, kali ini poker yang sesungguhnya (bukan permainan poker yang ada di facebook). Jam demi jam kita lewati dengan tumpukan kartu di tangan dan gelak ria canda tawa selalu mengiringi kebersamaan kita malam itu…
Tak terasa waktu hampir jam dua belas malam, kita harus cepat pulang jangan terlambat sampai di rumah, kita harus…cepat pulang, jangan terlambat sampai di rumah…loh malah jadi nyanyi. Hehe…well, akhirnya saya dan jalu pulang ke kost-an condong catur dengan membawa segala memory yang kita bawa hari itu…
Hhm, masih banyak mengenai cerita saya di Jogja, belum georgeus trip ke salah satu dari tujuh keajaiban dunia Borobudur, perjalanan mengangumkan seputar keraton Jogja, dan malam-malam di Malioboro…
Tunggu kisah selanjutnya ya, sampai saya menemukan inspirasi kembali untuk membagi cerita itu untuk kamu…well, ini memang sebuah perjalanan yang dapat merubah hidup saya sampai mati nanti. Merubah cara pandang hidup saya akan kehidupan dan membentuk sebuah prosa yang indah di kepala saya akan budaya yang dimiliki Indonesia..
I’ll be right back soon, don’t go anywhere…
Akhirnya, setelah sekian lama…saya (menulis) kembali. Kali ini saya akan menceritakan seputar perjalanan saya selama (nge-bolang) satu bulan menjelajahi kota Surabaya, Malang, Jogjakarta, Magelang, Klaten, dan jalanan-jalanan sepanjang Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, sampai balik lagi ke kota asal Jakarta.
Perjalanan ini dimulai dua hari setelah saya menjalani prosesi wisuda saya tanggal 15 oktober . Kamis, 17oktober 2009. jam di tangan saya menunjukan pukul 02.30 siang, saya berangkat menuju Surabaya dari salah satu pool bus malam yang ada di Kebayoran Lama. Sampai saat itu masih biasa-biasa saja, saya hanya membayangkan ini akan menjadi perjalan liburan biasa setelah saya menghadapi skripsi yang begitu (memeras isi kepala saya). Diperjalanan pun tidak begitu banyak waktu yang saya habiskan untuk berbicara dengan (wanita asing) yang duduk di sebelah saya. Saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk mendengarkan lagu-lagu dari band favorit saya PARAMORE
sambil memandang keluar jendela melihat jauh sepanjang jalur pantura. Sampai di Surabaya keesokan harinya sekitar pukul 08.30 pagi. Begitu hari pertama sesampainya saya di Surabaya, (belum lelah habis energi saya) saya langsung (di jamu) oleh sepupu-sepupu dan tante saya untuk berkeliling menikmati mall-mall yang ada di Surabaya (tentu ini masih menjadi hal yang biasa untuk saya). Berlanjut masih dalam perjalanan keliling Surabaya hari itu, saya berdua dengan (my beloved cousin) prahasti putri, dengan mengendarai city car nya, kita berdua mengu
njungi bangunan kota tua di salah satu sudut kota Surabaya dan berfoto-foto menggunakan Canon EOS D450 nya. Mulai dari situ sepertinya saya mulai merasakan (benih-benih) hal apa yang saya (sukai), yeah rite, saya suka (mengabadikan dan melukiskan bangunan-bangunan tua bersejarah ke dalam sebuah potret cahaya atau sekedar hanya merekamnya ke dalam memori di kepala), wow what a kind of wondering things. Ya setidaknya hari itu saya bisa merekamnya di kepala saya sebagai salah satu hari yang bisa saya ingat dalam hidup ini.
Hari demi hari terus saya lalui di Surabaya tanpa ujung yang pasti, mall ke mall saya kunjungi dengan sodara sepupu saya (Carloz Yudhistira) bersama dengan dua wanita yang ia cintai dalam hidupnya (Yuan dan Rere). Hari berganti hari terus berjalan dan statis saya lalui seperti itu (nampaknya kali ini saya menemukan hal baru yang tidak saya sukai dalam hidup ini, yaitu mengunjungi ‘mall’, nampaknya itu menjadi hal yang membosankan dan nampak semua sama saja yang bisa ditangkap mata, ‘hedonisme belaka…’)
Sampai pada suatu hari saya di ajak sepupu (yang tadi) prahastia putri untuk merekam kota surabaya di malam hari. Jumat, 30 Oktober 2009 hari itu, dimulai dengan mendatangi (bekas sekolahan sma putri) yaitu sma 6 surabaya untuk menjemput temen2nya putri (ada
nuphie, idrus dan zulmi), sebelum melakukan perjalanannya, kita ber-5 (berfoto-foto ria) dulu di sekitar jalanan sma 6, dengan menggunakan teknik panning di bawah cahaya rendah, nampaknya Canon EOS D450 itu bisa di andalkan (walau kita bukan Photographer Pro) tapi saya cukup puas dengan hasil yang (dilukis) pada moment2 itu, setidaknya ada empat titik spot yang kami jadikan objek latar belakang foto dengan berbagai (kenarsisan) kita masing2 . Setelahnya perjalanan kita lanjutkan ke sebuah landmark baru yang ada di Negara ini
, yaitu Jembatan Suramadu (yang sepertinya sangat disayangkan, karena mungkin bisa merusak biota bawah laut yang ada di bawahnya karena adanya pembangunan itu). Sesampainya di bawah jembatan suramadu, kita mesen minuman dulu sesuai dengan selera masing2. adalah kopi susu yang hangat untuk menemani saya di pinggir laut yang dingin itu. Begitu minuman kita habis, berjalan hanya kurang lebih 15 meter kita berada di bawah lorong jembatan suramadu dengan arsitek bergaya segitiga yang sungguh membuat kagum mata. Dengan pencahayaan warna kuning, tanpa ragu2 kita langsung menggunakan size2 memory yang ada di kamera itu untuk kemudian menciptakan (kenarsisan lainnya malam itu…hehe). Sungguh saya menikmatinya. Kali ini saya benar2 semakin tahu apa yang menjadi (interest) saya. Waktu menunjukan pukul 11 malam kalo tidak salah hari itu. Langsung saja kita ber-5 bergegas pulang (kali ini saya yang mengemudi…hehe). Well malem itu benar2 menjadi salah satu malam yang tidak terlupakan dalam hidup saya…
Keesokan harinya, kembali saya di ajak sama sepupu saya untuk jalan2, kali ini ke Batu Night Spectacular (BNS) di kota Malang. Cukup full city car yang kita gunakan untuk mencapai kesana, kurang lebih ada 7 orang+1 buntut (haha, itu lumayan untuk mengurangi tekanan gas yang ada d
alam ban). S
ampai di BNS kurang lebih pukul delapan malam (sebagai catatan ‘sesuai namanya’, tempat wisata yang mirip kaya Dufan di Jakarta itu buka hanya pada malam hari. Kita berangkat dari Surabaya juga waktu itu kalo tidak salah sudah pukul 5 sore). Saya cukup menikmati semua wahana yang ada di tempat itu seperti Go Kart dan Shoot Laser bergaya macam peperangan masa depan saja. Tapi ada satu tempat yang benar2 membuat saya tidak habis pikir (awesome-nya) ia itu adalah Lampion Garden dimana di dalamnya begitu banyak cahaya2 yang memanjakan mata dengan berbagai bentuk yang tidak akan kamu lupakan kalo berfoto di antaranya…ada beberapa replika keajaiban di dunia juga di dalamnya seperti menara Eiffel france, tembok china, sampai tugu monas Indonesia (wow, it’s really awesome…) inilah salah satu malam yang tidak akan saya lupakan lagi…and then kita balik lagi ke Surabaya karena waktu memang tidak memungkinkan lagi untuk dihabiskan di malang. Sampai di rumah Surabaya kalo tidak salah jam 2.30 subuh/pagi. (huhu I love doing this. Farah quinn mode..hehe).
Lalu hari berganti hari berikutnya silih berganti yang saya jalani tanpa sesuatu yang pasti, sampai pada akhirnya saya putuskan untuk kembali ke Jakarta (tapi sebelum balik lagi ke kota kelahiran itu) saya berniat untuk mengunjungi teman2 sma saya yang kuliah di Jogjakarta (hhm, sepertinya ini akan jadi perjalanan menarik lainnya…) . mau tau cerita berikutnya…tunggu saja sampai saya posting tulisan berikutnya (haha). Yang pasti cerita ini belum berhenti sampai disini, saya akan mengajak kamu melihat dunia jogja melalui mata saya….ditunggu ya…we well see later…key’, and the story will be continued…
Jika Bumi bisa digantikan Bumi yang lain…
Apa yang ‘kan terjadi…
Tak terbayangkan seandainya itu terjadiTanpa Mentari yang menyinari
Tanpa Bulan yang menerangi
Tanpa Pelangi yang mewarnai
Tanpa Udara yang berhembus
Tanpa Bintang yang menakjubkanMelayang dan terus melayang
Melintasi Alam khayalku
Menghampakan semuanya…Ketika sang Waktu membuatku gila
Dengan segala misterinya…
Membuatku tak dapat melangkah
Terdiam resah tak berbahasa…Pandanganku pun mulai jauh mengabur…
Menghiraukan sekujur tubuhku,
Yang ‘kan terbaring di Dunia itu…
![]()
Kau rangkai sayap-sayap patah ku yang belajar untuk terbang menikmati indahnya cinta…
Cinta…sinar-sinar ajaibnya menerangkan jalanku untuk terus tetap bertahan, untuk terus berjalan walau dalam kehampaan…Cinta…cinta membangunkanku di pagi hari, lalu cinta mengistirahatkanku di siang hari dibawah pohon-pohon yang meneduhkanku dari sinar matahari dan cinta kembali memberikan sinar-sinar ajaibnya melalui langit sore, dan cinta membuatku rindu akan hadirnya dalam malam-malamku yang memikatku dengan sinar bulan dan berjuta bintangnya…
Cinta…lalu cinta akan memejamkan mataku sampai ku terlelap tidur untuk bertemu kamu kembali di esok hari…
Aku menCINTAimu…
kali ini benar-benar menjiwai di hatiku…
Ia datang tak hanya dengan lidah tapi dengan Hati yang terdalam membuatku tak kuasa menahan tetes air mataku…
Ketika cinta ini membuka hatiku dengan sinar-sinar ajaibnya dan menyentuh jiwaku untuk pertama kali dengan jari-jemarinya. Cinta ini menyampaikan rahasia cinta dengan segenap perasaan hatimu…dan mengubah kesendirianku menjadi saat-saat bahagia serta memenuhi keheningan malam-malamku dengan canda tawa suaramu…
Aku terbenam jauh kedalam pikiran dan mencoba merenungkan betapa mulianya yang kuasa mau menghadirkan hatimu ke dalam hatiku, berkenan menemani jiwaku dengan jiwamu…dan tak terbayangkan jika ku terpisah jauh darimu, betapa hancur dan harunya hidupku…
Kamu adalah bidadari dari jantung hatiku yang memenuhi dengan segala rahasia dan berbagi kehidupan serta membuatku memahami makna kehidupan, ketika kau menuntun hidupku…
akan kutumpahkan seluruh daya pada cinta ini..dan akan setia selamanya hidup di hatiku…karena Aku Sayang Kamu…
Cinta ketiga ini benar-benar menyentuh hatiku…semua sikapmu, canda tawa suaramu, harum nafas aroma tubuhmu melekat di inderaku…
Aku sayang kamu, tapi tak akan terlalu memeluk erat jiwamu kalau nantinya kamu akan tersesak…aku sayang kamu setulus hatiku, tak akan ternoda oleh cinta palsu…
Aku sayang kamu, karena hanya kamu yang mampu membuat hatiku menangis..aku sayang kamu, selama-lamanya semoga tak akan hilang terhempas oleh waktu..aku sayang kamu, karena aku sayang kamu dan bibir ini tak mampu berikan alasannya, karena hanya hatiku yang mampu menjawabnya…
Aku merasa mengenal kamu sejak dahulu, tapi ada entah dimana, apa mungkin jiwa kita pernah bersatu di kehidupan yang lalu…tapi semua itu tetap membuatku bersyukur atas nikmat takdirNya, betapa mulianya yang kuasa menghadirkan Mahadewi dalam hidupku..tak akan pernah hilang dari hati ini…
Kamulah sang mentari dalam kegelapan hatiku…
Kamulah udara dalam sesak nafasku…
Kamulah butiran embun dalam kering jiwaku…
Semoga hatiku dan hatimu tetap bersatu..selamanya. Dan dengan segala petunjukNya untuk menuntun hati kita untuk selalu bersama selamanya…
semoga hatimu tidak tersesak dengan semua isi hatiku…
Aku Sayang Kamu…

Ketika ku terbenam jauh kedalam hatiku…
Butakan mataku..semua tentang keindahan
Membingungkan Jiwa ini..tersesat dipersimpangan jalan
Begitu banyak cinta yang menyapa,
Bimbangkan Hati..dan tak mampu ku memilihnya
Kini ku berharap Malaikat datang kepadaku,
dan ia berkenan mengeluarkanku dari Lingkaran ini…
untuk sekedar menyelamatkan cinta-cinta itu…
tuntunlah Jiwa dan Hatiku ini…
Merangkai semua tanya,
yang sesak terkumpul diHati…
semua tentang perasaan itu…
apa yang kini sedang kuhadapi,
membuat Jiwaku resah tak terkendali…
Bimbang itu terus merajai…
(Women Version)
………………..
Lihatlah lebih dekat…
dan kau akan pahami segalanya
tuntunlah Hatimu, jangan biarkan ego merajai
Mengertilah..pahami arti ini
Berikan makna pada arti ini
Lihatlah lebih dekat…
dan kau akan pahami perasaan Hati ini
Jiwa yang rapuh luruh mendamba keajaiban Cinta…
untuk sekedar melipurkan rindu,
menyelamatkan Hati…
Tanpa ilalang, yang ada hanya anyelir
tak akan menutupi pandanganmu…
mungkin akan membawamu ke tempat yang lebih baik
Lihatlah lebih dekat..Aku Mencintaimu
(Man Version)
…………….
Dalam hidup selalu terdapat dua pilihan
yang baik atau yang kurang baik,
tergantung dari bagaimana kita menyikapinya…
Antara kebenaran dan kesalahan,
mungkin dapat dibedakan…
tapi keduanya tidak dapat dinilai,
siapa yang lebih baik…
Aku hanya ingin mencapai keseimbangan diantara keduanya…
antara hari ini maupun kemarin
antara saat ini ataupun esok nanti
antara hitam dan putih
antara baik dan buruk
antara perasaan dengan keinginan
antara harapan dengan kenyataan
semoga ku dapat mencapai keseimbangan…
(Both of us version)
…………………..
Aku selalu berjalan sendiri…
kenapa mereka tak pernah mengerti…
aku yang diam disini pun jadi tak mengerti,
apa yang sebenarnya kucari…
kenapa ku hanya menanti keajaiban datang padaku…
Ditempat ini..ku terdiam kehilangan arah
tanpa ada yang mampu menghampiri,
walau untuk sekedar mencoba mengerti…
Ketika aku merasa menjadi orang yang paling benar,
kenapa semuanya terasa begitu salah
Aku tidak pernah tahu apa yang kucari,
sampai mereka benar-benar bisa mengerti
Hadirnya dirimu adalah sebuah kebenaran…
Menjadi belahan jiwa dari kaum sang Adam…
Hatimu sebening embun yang hanya dapat disentuh, oleh ketulusan…
Ada garis yang membentuk di atas padang pasir,
Lalu hancur hilang tak beratur, tersapu badai…
Tapi kamu sebagai Perempuan yang selalu tertindas,
Masih berdiri kokoh disini, menatap kedepan…
(dedicated to R.A Kartini and her people…)
Dalam konteks partikular, dimanapun itu baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi, filsafat dalam dunia akademik seringkali dipakai kedalam materi yang diajarkan, biasanya dihubungkan juga dengan teologi, psikologi, ilmu hukum, ilmu sejarah, ilmu bahasa, kesusastraan, dan humaniora. Dimana disitu akan diajarkan eksistensi dan esensi dari manusia (Ontologi), diajarkan bagaimana keteraturan alam (Kosmolgi) dan diajarkan mengenai mattery and mind (Antropologi) dimana ketiganya adalah termasuk kedalam metafisika (The Study of Being as Such) yang pada dasarnya adalah bagian dari filsafat.
Ajaran filsafat lain yang paling menjadi acuan dalam dunia akademik dan dunia sosial juga adalah bagaimana cara kita beretika dan berestetika. Didalam etika kita akan diajarkan semacam filsafat moral tentang nilai (Judgment of Value) dan kewajiban (Judgment of Obligation) yang hanya berisi tentang yang mana yang baik dan yang tidak baik, sedangkan didalam estetika kita akan belajar menelaah tentang nilai seni (Art) dan keindahan (Beauty) yang berisi tentang yang indah atau tidak indah. Kesemuanya ini termasuk kedalam Norm yang berbentuk Carpenter’s Square dimana kalau sudah mencapai tahap yang lebih tinggi kita akan selalu belajar dan berusaha bagaimana cara bergramatika (Berbicara yang sistematis yang subjek dan objeknya jelas), belajar beretorika (The art of using language effectively) dan belajar bagaimana cara kita berlogika (The art and knowledge of correct thinking).
Dalam kehidupan remaja saat ini, sudah sangat minim sekali fungsi filsafat dan logika digunakan. Remaja saat ini (Terutama dalam lingkungan pergaulan yang saya tahu) sudah banyak sekali remaja yang kehilangan eksistensi dan esensinya. Usia remaja memang merupakan satu fase dari perkembangan anak yang cukup menyenangkan sekaligus rawan. Karena, pada fase ini seseorang anak akan tumbuh dan berkembang secara fisik dan psikologis memasuki pintu ambang dewasa. Tak berlebihan jika pada masa ini, remaja dihadapkan pada kehidupan baru yang sebelumnya belum pernah dialami. Ia akan mengenal apa yang biasa disebut ‘pertama kali’ mengenal cinta (Pacaran), alkohol, narkotika, rokok, dan tanggung jawab pertama sebagai ‘orang dewasa’. Bahayanya, di tengah gaya hidup hedonis seperti sekarang ini, remaja nyaris tanpa kendali hanyut dalam gaya hidup sebuah dunia baru yang dipaksa tumbuh lebih cepat dari sebelumnya. Kenyataan itu tidak lepas dari pengaruh kebudayaan global (Barat) lewat TV dan internet yang sangat meng-influence, sampai tanpa sadar dan bahkan dengan senang hati, kaum muda di belahan dunia manapun mengikuti tren gaya hidup Amerika yang sangat hedonis (Urban Society). Tidak berlebihan jika gaya hidup remaja Indonesia kemudian sungguh merisaukan para orang tua, karena tidak sedikit remaja Indonesia yang memakai tato di tubuhnya, bermusik rock ‘n roll, memakai baju merk-merk luar negeri, mengecat rambutnya, piercing, dan gaya hidup hedonis lainnya. Memang, hal itu sah-sah saja. Tetapi persoalannya akan muncul ketika semua itu hanya dipahami sekadar mengikuti tren gaya hidup dan sekedar mencontoh sang idola (Where the essence of east people ?). Ketika seorang remaja tidak berpikir secara kritis filosofis saat mengikuti tren dan budaya barat itulah, satu pangkal kekeliruan yang mendasar. Apalagi jika sampai mereka tidak mau mengkritisi akan baik dan buruknya budaya itu dengan adat ketimuran kita (So, that is reason why, philosophy and logic very important for life society). Dunia sekarang memang tak ubahnya sebuah desa kecil (Global Village) yang tanpa batas, sehingga kebudayaan global kaum muda Amerika dengan gaya hidup hedonis dan konsumeris merasuki pula gaya hidup remaja Indonesia. Tidak salah jika sebagian kaum muda (Anak Gaul) Indonesia, kini diidentikan dengan kaum hedonis Amerika dengan ciri hidup matrealistis (Yang menginginkan kesenangan) dengan cara apapun yang tanpa aturan, tanggung jawab dan tanpa tujuan hidup yang jelas. Hidup hanya dijalani untuk senang-senang, nongkrong, main gitar, pacaran, dan tidak mau memperjuangngkan sebuah idealisme. Anehnya, semua tindakan itu ternyata tidak dilandasi dengan pemikiran logis dan filosofis, hanya sekedar mengikuti tren dan tidak mau ketinggalan zaman belaka.
Pada akhirnya ‘the conclusion of philosophy is’ Filsafat adalah sebagai ilmu yang telah lama dikembangkan oleh para pemikir di berbagai belahan dunia dalam rangka memahami dan memaknai kehidupan. Problem-problem kehidupan dan kemanusiaan yang datang terus-menerus membutuhkan jawaban. Problem itu yang memacu perkembangan ilmu filsafat, terlebih ketika memasuki era global yang dengan mudahnya komunikasi dan perpindahan ide, gagasan, dan budaya dari satu wilayah ke wilayah lain. Pertemuan budaya, ideologi, dan agama tidak lagi bisa dihindarkan. Para filsuf telah menyumbangkan pengabdiannya untuk memberikan jalan pemecahan demi kemajuan umat manusia, terbukti banyak tokoh internasional yang dengan basis filsafat telah memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, agama, pemerintahan, pendidikan, dan karya seni, pengetahuan filsafat yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, keagamaan, dan profesionalitas melalui kemampuan pemahaman dan pemaknaan akan kehidupan. Bertumpu pada hasil pemikiran para filsuf diharapkan akan muncul individu hasil didik yang bijak dan bahagia dalam mengarungi kehidupan tentunya juga dengan cara berpikir yang logis dan jangan sampai menimbulkan ‘Contradictio Interminis’.
Jadi, Bagaimanakah seharusnya kita berpikir kritis filosofis…?
Kajian tentang politik senantiasa dihadapkan pada realita kehidupan organisasi Negara (pemerintahan) karena jalan organisasi Negara selalu diwarnai dengan aktivitas politik untuk mengatur kehidupan Negara, proses pencapaian tujuan Negara, dan melaksanakan tujuan Negara sebaik-baiknya. Oleh karena itu permasalahan politik biasanya lebih terfokus pada “kekuasaan”.
Untuk mencapai tingkat kekuasaan tertentu, diperlukan partai politik sebagai sarana/alatnya. Partai politik adalah sekelompok manusia yang terorganisasi secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintah bagi pimpinan partainya sehingga penguasaan itu memberikan manfaat kepada anggota partainya baik yang bersifat ideal maupun material (Miriam Budiarjo : 2005)
Indonesia merupakan Negara demokrasi yang menggunakan sistem multi partai. Dalam situasi perpolitikan nasional saat ini terbuka luas peluang bagi setiap partai politik mana saja untuk bersaing dan menjadi partai yang menguasai jumlah suara terbanyak pada pemilu tahun 2009 nanti.
Untuk mencapai semua itu, setiap partai politik perlu melakukan berbagi usaha dan strategi guna mewujudkan tujuan dan harapannya untuk memperoleh kekuasaannya tersebut, pada perjalanannya sebuah partai politik hanyalah mempertimbangkan image atau citra yang akan dibangun untuk memperoleh simpati masyarakat umum atau bahkan sampai mempengaruhi konstituen maupun calon konstituen dari partai tersebut.
Ada fenomena baru yang terjadi lima tahun belakang ini, dimulai dari pemilu tahun 2004 silam, personal yang dijadikan sebagai komunikator politik oleh suatu parpol untuk membangun citra dan memperoleh simpati massa, sekarang tidak lagi hanya dari insan politik yang memang benar-benar murni ”lahir” dari dunia politik, tetapi mulai merambah kepada figur artis yang dijadikan ”alat penarik massa” untuk menjadi anggota konstituen partai tersebut
Ditandai dengan perekrutan figur populer dari kalangan artis dan pelaku dunia hiburan tersebut, fenomena ini secara kasat mata mudah diduga sebagai strategi partai politik untuk meraih dukungan publik dalam pemilu. Tapi perlu dikritisi apakah ada motif-motif lainnya dibalik “ramai-ramainya” artis terjun kedunia politik.
Strategi ini bukan hanya menguntungkan parpol, tapi juga memberikan peluang kepada kalangan artis untuk duduk di lembaga perwakilan, apalagi jika partai politik memberlakukan sistem penentuan calon terpilih berdasarkan suara terbanyak.
Dalam proses pencalegan ini, ada titik temu antara kepentingan parpol di satu sisi dengan kepentingan artis untuk meraih cita-cita politik. Parpol membutuhkan figur yang mampu menarik pendukung, sedangkan alasan artis terjun ke dunia politik mungkin untuk mengembalikan popularitasnya atau bahkan hanya karena materi semata, inilah yang menyebabkan demokrasi berpotensi melahirkan pejabat-pejabat politik yang hanya memiliki popularitas tinggi dalam masyarakat, tetapi tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas yang memadai. Padahal jika kapasitas tersebut tidak dimiliki, maka struktur-struktur negara yang diamanatkan kepada mereka tidak akan dapat bergerak secara optimal untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Ini adalah cacat bawaan demokrasi yang kalau disikapi dengan benar sesungguhnya masih bisa dicegah agar tidak benar-benar terjadi.
Alasan-alasan tersebut perlu kita kritisi karena keberadaan artis dalam kancah politik tanah air pada nantinya juga akan berpengaruh pada kekuasaan di negri ini.
Jadi, bagaimana menurut anda…?



